Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh : Rifqi Muhammad

03-Jul-2008, 02:15:27 WIB

sumber : www.kabarindonesia.com

Indonesia laiknya surga yang nyata, iklimnya tropis dan dua per tiga wilayahnya berupa lautan. Posisi strategis ini menawarkan habitat yang mendukung bagi kehidupan jutaan jenis ikan. Sayang, harta melimpah itu bukan lagi milik kita. Sebab, kita tak sepenuhnya bisa memanfaatkannya. Sebaliknya, anugrah tersebut malah dilahap oleh orang lain Irono bukan? Dapat dipastikan, siapapun akan tergiur dengan kekayaan hasil laut Indonesia. Bagi mereka yamg melirik, beragam cara akan dilakukan untuk mengeruk lautan kita. Lanjut Baca »

Oleh : Vima Tista Putriana

10-Jul-2007, 22:13:03 WIB

sumber : www.kabarindonesia.com

KabarIndonesia – Tiga setengah abad berada di bawah penjajahan Belanda yang sangat tidak beradab telah membuat bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang “rendah diri”. Meskipun sudah lebih dari 60 tahun merdeka, tetapi sindrom “mental bangsa terjajah” ini tetap belum hilang. Masih saja merasa diri belum sejajar dengan bangsa lain.

Satu contoh sederhana keminderan ini terlihat dari diskriminasi tingkat gaji yang sangat tinggi antara expatriate dibandingkan anak negeri sendiri. Para expatriate di Indonesia digaji 10 kali lipat dari orang Indonesia meskipun dengan tingkat pendidikan, kemampuan, tanggung jawab dan kinerja yang sama.

Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut standar Bappenas, mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun. Sebaliknya orang Indonesia, dengan kualifikasi sama hanya menerima sebesar $500,00 saja. Tidak jarang dalam suatu proyek, meskipun dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi semisal MSc atau PHd, orang Indonesia digaji tetap lebih rendah dari expatriate yang cuma BSc (Rahardjo, 2006).

Di samping gaji tinggi, biasanya expatrite juga mendapat berbagai fasilitas berlimpah seperti berkantor di kawasan segitiga mas (Sudirman, Thamrin dan Kuningan), tempat tinggal di apartemen mewah, keanggotan di club-club olah raga dan hiburan elite dan lain-lain. Intinya mereka sangat dimanjakan, sehingga tidak salah kalau dikatakan Indonesia adalah syurga bagi para expatriate.
Lanjut Baca »

[ Minggu, 29 Juni 2008 ]
Puji Lestari, Pengusaha Sampah yang Memberdayakan Orang-Orang Eks napi, pemakai narkoba, dan orang cacat
Saya Hanya Memberi Jalan untuk Mentas

Masih banyak orang yang memandang negatif mantan napi, pemakai narkoba, dan orang cacat. Padahal, mereka sudah bertobat dan berusaha hidup normal. Tapi, di mata Puji Lestari, orang-orang itu punya potensi dan berhak kembali ke tengah masyarakat. Puji telah membuktikannya. Lanjut Baca »

Hari ini, 20 Mei 2008, adalah satu abad Kebangkitan Nasional. Pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo lahir. Organisasi tersebut merupakan perkumpulan pemuda yang saat itu membayangkan masa depan kaum bumi putra yang mandiri. Bebas dari penjajahan.

Kebangkitan Nasional menjadi tonggak sejarah. Setiap saat sejarah tersebut dibuka kembali. Dipelajari. Dipahami. Setelah itu, ia dijadikan inspirasi dan semangat pada setiap babak berikutnya perjalanan bangsa untuk mewujudkan cita-cita hidup berbangsa yang lebih bermartabat.
Lanjut Baca »

Oleh: Mario Gagho*)

Hari Senin memang hari kurang tepat untuk mengunjungi FRRO (Foreign Regional Registration Officer). Tapi berhubung resident permit saya sudah tinggal sekian hari lagi, saya terpaksa datang. Benar. Suasana ramai sekali di kantor imigrasi itu. Persis seperti di lounge ruang tunggu bandara. Saya mengambil posisi duduk di sudut belakang supaya bisa agak bebas “memata-matai” yg baru datang maupun yg sudah duduk menunggu namanya dipanggil.

Duduk di samping saya sebuah keluarga bule, suami istri dan dua anaknya yg masih kecil, antara usia 10
dan 12 tahun. Berbeda dg kalangan bangsa lain termasuk NRI (non-resident of India) yg sibuk ngobrol dan ribut, keluarga bule ini duduk tenang di kursi masing-masing. Anehnya, semua sibuk membaca. Suami tampak sedang membaca “My Life”-nya Bill Clinton, si istri membaca novel karya novelis favorit saya, John Grisham. Sedang kedua anak mereka asik membaca komik Archie. Rencana untuk mengajak mereka ngobrol saya urungkan, takut mengganggu; dan saya pun jadi membuka buku karya Edward W. Said “the End of the Peace Process” yg sudah sebulan lebih saya pinjam dari Qisai tapi belum beres juga bacanya. Pemandangan orang bule yg lagi asik membaca juga sering kita lihat di mana-mana: di bandara, dalam pesawat, dalam bis, dll.
Lanjut Baca »

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »