[ Minggu, 29 Juni 2008 ]
Puji Lestari, Pengusaha Sampah yang Memberdayakan Orang-Orang Eks napi, pemakai narkoba, dan orang cacat
Saya Hanya Memberi Jalan untuk Mentas
Masih banyak orang yang memandang negatif mantan napi, pemakai narkoba, dan orang cacat. Padahal, mereka sudah bertobat dan berusaha hidup normal. Tapi, di mata Puji Lestari, orang-orang itu punya potensi dan berhak kembali ke tengah masyarakat. Puji telah membuktikannya.
Mengapa Anda tertarik merekrut mereka?
Saya tidak tahu persis bagaimana itu bisa terjadi. Awalnya, pada 1987, saya merasa prihatin terhadap anak-anak cacat dari keluarga tidak mampu. Kebanyakan, orang tua malu dengan anak-anaknya yang cacat itu. Mereka lalu ”menyembunyikannya” di rumah. Anak-anak itu tidak disekolahkan dan dijauhkan dari kontak dengan teman-teman seusianya.
Padahal, mereka berhak membangun masa depannya. Mereka sebenarnya punya potensi, asalkan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. Dari empati itulah saya merasa berkewajiban membantu mereka.
Apa yang Anda lakukan kemudian?
Saya lalu menyurvei ke tetangga dan ketua RT, mencari anak-anak cacat yang dijauhkan dari dunianya itu. Dari sana, saya menemukan keluarga-keluarga tidak mampu yang punya anak cacat. Saya dekati orang tuanya dengan memberi pemahaman. Saya minta izin untuk mendidik mereka. Saya lalu membawa mereka ke Panti Asuhan Bananul Amanah yang saya kelola. Sekarang terkumpul 60 anak cacat yang terampil dan siap mandiri.
Setelah Anda kumpulkan, lalu apa?
Di pantai asuhan itu, mereka saya sekolahkan. Sebab, kebanyakan tidak pernah sekolah sama sekali. Mereka saya seragamkan, meskipun ada beberapa anak yang usianya berbeda. Saya tidak memungut biaya sepeser pun. Mereka tinggal sekolah gratis karena mereka dari keluarga tidak mampu. Kebutuhan alat tulis dan sebagainya juga ditanggung panti. Termasuk makan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Anda juga memberdayakan mereka?
Ya, mereka juga saya berdayakan. Saya ajari mereka bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Misalnya, memilah sampah plastik dan menjahit pakaian. Pekerjaan itu mereka lakukan sepulang sekolah. Tapi, jangan salah mengerti, saya bukan mempekerjakan mereka. Saya hanya memberi motivasi dan jalan agar mereka punya keterampilan bekerja. Agar mereka nanti bisa mandiri.
Apakah mereka juga mendapat penghasilan?
Tentu, karena mereka bekeja. Masing-masing anak punya rekening di bank yang dipegang sendiri. Penghasilan mereka setiap bulan langsung dimasukkan ke rekening. Mereka bisa tahu berapa tabungannya. Saya tidak ingin menyembunyikan apa pun dari mereka. Saya hanya memberikan hak yang seharusnya mereka terima.
Bahkan, saya juga memberi mereka asuransi pensiun. Tujuannya, mereka punya masa depan untuk keluarganya.
Bila ada yang ingin keluar panti, apakah boleh?
Siapa yang melarang? Saya tidak bisa memaksa mereka untuk terus tinggal di panti. Kalau memang mereka ingin mandiri, saya tidak bisa melarang. Hak-hak dia yang selama ini disimpan juga boleh dibawa. Panti tidak meminta ganti rugi apa pun dari mereka. Tapi, selama ini, hampir tidak ada yang seperti itu. Bahkan, sebaliknya, ada penghuni panti yang sampai berkeluarga di panti.
Anda masih merekrut anak cacat sampai sekarang?
Masih. Hanya, saya sekarang tidak blusukan lagi. Dulu saya sampai ke Ngawi dan Pacitan untuk mencari anak cacat dari keluarga tidak mampu. Sekarang, kalau ada anak cacat dari keluarga tidak mampu mau masuk panti, silakan datang ke rumah saya.
Anda juga ngopeni mantan narapidana?
Ya, selain anak cacat, saya melihat mantan napi mengalami persoalan yang sama. Mereka sulit mencari pekerjaan. Di mana-mana ditolak. Perusahaan rata-rata khawatir mempunyai pekerja mantan napi. Mungkin karena latar belakangnya dan membayangkan tampang eks napi itu sangar-sangar. Ha…ha…ha…
Awalnya, saya hanya mempekerjakan seorang eks napi pada 1993. Setelah eksis, dia saya suruh mengajak teman-temannya untuk bergabung. Kadang, saya juga cari informasi dari mulut ke mulut.
Bagaimana Anda mendekati mereka?
Saya tanya mereka baik-baik: Anda mau bertobat? Anda mau memperbaiki diri? Setelah mereka menyatakan sanggup, saya ajak mereka bekerja. Mereka saya tempatkan di gudang yang juga menjadi tempatnya bekerja.
Bagaimana Anda memahami karakter mereka yang umumnya keras? Bagaimana Anda menaklukkannya?
Memang bertahap dan sabar. Awalnya, saya dekati mereka secara personal. Saya ajak bicara dari hati ke hati. Pada kesempatan itulah saya bilang, kalau ingin diterima kembali oleh masyarakat, mereka harus bisa membuktikan diri bahwa mereka telah berubah. Selama tidak bisa menunjukkan perubahan itu, masyarakat akan terus memandang miring.
Untuk itu, mereka juga perlu mendapat siraman rohani dan diajari beribadah. Sebab, kalau ibadahnya bagus, insya Allah perbuatannya juga bagus. Memang sulit, tapi lama-kelamaan terbiasa.
Katanya, Anda juga menampung pemabuk dan pengguna narkoba?
Iya, tapi mereka sudah bertobat. Mereka saya jadikan satu dengan para pekerja eks napi. Awalnya, mereka orang-orang di sekitar rumah saya (kawasan Sidosermo PDK). Daripada muncul kekhawatiran mereka meresahkan lingkungan, saya merekrut mereka untuk bekerja di perusahaan saya. Alhamdulillah, mereka kini menjadi pekerja yang baik.
Setelah itu, Anda mengembangkan usaha di daerah?
Benar, saya membuka lapangan pekerjaan di beberapa daerah. Misalnya, Mojokerto, Madiun, dan Ponorogo. Perusahaan itu bekerja di pemilahan plastik. Tapi, pemilahannya bukan di pabrik. Pekerja melakukannya di rumah masing-masing. Setelah selesai, saya ambil.
Mengapa begitu?
Saya tidak ingin mereka pindah ke kota hanya untuk mencari pekerjaan. Dengan pola kerja seperti itu, mereka tetap bisa bekerja di rumah. Lagi pula, jika dihitung-hitung, biaya produksinya lebih murah.
Dari mana ide itu?
Saya mendapat inspirasi dari Tiongkok yang maju pesat. Semua orang diberdayakan tanpa harus meninggalkan rumah sesuai kemampuan masing-masing. Dengan begitu, ada pemerataan penduduk dan tidak perlu urbanisasi. Memang, saya belum pernah ke Tiongkok. Tahunya ya dari buku dan koran.
Anda juga membina PKL Surabaya?
Saya hanya melatih para pengangguran itu untuk mandiri. Mereka saya beri modal usaha Rp 1 juta. Tiap hari mereka harus menyisihkan seribu rupiah. Setahun kemudian, uang itu dialihkan ke orang lain yang membutuhkan. Sebenarnya, konsepnya mirip MLM (multi-level marketing).
Sebenarnya, apa sih yang Anda harapkan dari semua itu?
Saya hanya ingin membantu menyelesaikan sedikit masalah pengangguran. Dengan cara itu, insya Allah, sedikit demi sedikit jumlahnya akan terkurangi. Apalagi jika satu pengusaha mengambil lima pengangguran. Saya yakin, masalah ini bisa cepat teratasi. (eko priyono/ari)
Sumber : http://jawapos.com
Anggap Wajar Yang Masih Kumat
Niat baik Puji Lestari terkadang berbuah pahit. Ada beberapa pekerjanya yang eks napi, pecandu narkoba, serta orang cacat yang kumat dan melakukan perbuatan tidak terpuji. Mereka mencuri barang-barang di tempatnya bekerja seperti komputer, LCD, dan handycam.
”Mereka kan tidak berpendidikan dan berlatar belakang seperti itu. Sejauh masih bisa ditoleransi, ya saya anggap wajar,” kata Ririn, panggilan akrab Puji Lestari.
Perempuan yang tinggal di Sidosermo PDK tersebut menyadari sepenuhnya kemungkinan pekerjanya kumat. Karena itu, dia sudah siap dengan segala risiko yang muncul pada kemudian hari.
Seolah sudah menganggap biasa, ibu dua anak itu pun tidak lantas mencak-mencak atau memecat karyawannya. Ririn punya jurus ampuh untuk melunakkan mereka. Yaitu, melakukan pendekatan secara persuasif dan kekeluargaan. ”Saya dekati mereka. Saya tanya ada apa, kenapa. Lebih baik jangan nyolong, minta saja,” ujarnya. Dengan cara seperti itu, karyawan menjadi takluk dan patuh.
Dia pun mengonsep cara agar karyawan merasa enjoy dan tenang saat bekerja. Menurut Ririn, jika ada beban pikiran yang mengganggu, pekerjaan jadi kurang maksimal. Karena itulah, dia perlu menggaji karyawannya hingga gaji ke-14,5 selama setahun.
Rinciannya, 12 kali gaji bulanan, satu setengah kali gaji untuk tunjangan hari raya, dan satu kali gaji tambahan untuk Juni. Ririn mengungkapkan, tambahan gaji pada Juni itu merupakan inisiatif dirinya. Menurut dia, pada bulan itu, karyawannya membutuhkan banyak tambahan uang untuk sekolah anak-anaknya. ”Kan tahun ajaran baru. Jadi, wajar kebutuhan mereka bertambah,” jelas istri Suhartono itu.
Dia berharap pendidikan keluarga karyawannya tetap lancar dan mereka tidak perlu melakukan pekerjaan lain untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Dia berprinsip, perusahaan wajib memberikan ketenangan kepada karyawan dalam bekerja. Dengan begitu, karyawan mau bekerja giat, konsentrasi, dan maksimal. Dampaknya, karyawan juga punya loyalitas tinggi terhadap perusahaan. ”Jadi, pekerjaannya ya kerja tok, tidak usah mikir sampingan. Apalagi, doanya untuk saya juga banyak,” ujarnya dilanjutkan tertawa.
Dengan memberikan kompensasi sedemikian besar, apakah tidak rugi? Ririn menegaskan, sebagai pebisnis, dirinya sudah menghitung semuanya. Meski memberikan sesuatu yang lebih untuk pekerja, dia tidak rugi. Bagi dia, perhatian perusahaan kepada karyawan itu sangat penting.
”Karyawan bukan pekerja, tapi investasi. Apa pun bentuknya, merekalah yang membesarkan perusahaan dan menjadi ujung tombak. Dengan perhatian penuh, mereka bisa bekerja tenang,” katanya. (eko/ari)\
———-
Tentang Puji Lestari
Nama : Puji Lestari (Ririn)
TTL : Trenggalek, 30 April 1961
Suami : Suhartono
Anak :
1. Yani Ika Prastiwi (kuliah di Nortumbria University, Inggris)
2. Nike Aswati (Kedokteran Unibraw)
Pendidikan
- SDN I Karang Turi, Munjungan, Trenggalek
- SMP Trikora, Munjungan, Trenggalek
- SMEA N Kediri
- S1 Widyagama Malang
- S2 Universitas Narotama Surabaya
Aktivitas
Direktur UD Citra Persada
Komisaris PT Laksana Indah
Komisaris PT Nirwana Travel
Pengawas Koperasi Setia Bhakti Jatim
Pemilik Panti Asuhan Bananul Amanah Madiun
Dosen Tamu Universitas Gadjah Mada Jogjakarta
sumber : http://jawapos.com

Tau nggak gimana aku bisa ngehubungin mbak Puji?